Profil Prabowo Subianto Joyohadikusumo
Letnan Jenderal Purnawirawan Haji Prabowo Subianto Joyohadikusumo merupakan seorang politisi, pengusaha, dan perwira tinggi militer Indonesia. Ia menempuh pendidikan dan jenjang karier militer selama 28 tahun sebelum berkecimpung dalam dunia bisnis dan politik.Pria yang memiliki tampilan khas yang mudah dikenali dengan baju warna khaki dengan banyak kantong ini merupakan calon presiden padaPemilu 2019, ia diusung oleh Partai Gerakan Indonesia Raya atau Gerindra untuk maju menjadi Calon Presiden Republik Indonesia tahun 2019 setelah gagal dalam pemilu 2004, 2009 dan 2014 yang lalu. Banyak Kontroversi yang di alamatkan kepada Prabowo Subianto semasa ia berkarier Militer.
MASA KECIL
Prabowo Subianto lahir di Jakarta pada 17 Oktober 1951. Ia merupakan anak ketiga dan putra pertama dari Sumitro Joyohadikusumo dan Dora Marie Sigar, yang lebih dikenal sebagai Dora Soemitro. Ayahnya merupakan seorang pakar ekonomi dan politisi Partai Sosialis Indonesia yang pada saat itu baru saja selesai menjabat sebagai Menteri Perindustrian di Kabinet Natsir, pada April 1952. Tak lama setelah kelahiran Prabowo, Sumitro diangkat kembali sebagai Menteri Keuangan pada Kabinet Wilopo.
Prabowo memiliki dua orang kakak perempuan bernama Biantiningsih Miderawati dan Maryani Ekowati; dan seorang adik lelaki, Hashim Joyohadikusumo. Prabowo mengikuti kepercayaan ayahnya yakni Islam, sementara adik serta kakaknya mengikuti kepercayaan ibunya yang beragama Kristen.

Dari keluarga ayahnya, Prabowo merupakan cucu dari Margono Joyohadikusumo, pendiri Bank Negara Indonesia yang singkat BNI dan Ketua Dewan Pertimbangan Agung yang pertama. Nama pertamanya diambil dari pamannya, Kapten Subianto Joyohadikusumo, seorang perwira Tentara Keamanan Rakyat yang gugur pada Pertempuran Lengkong pada Januari 1946 di Tangerang. Keluarga Joyohadikusumo sendiri dikatakan merupakan keturunan dari Raden Tumenggun Kertanegara, seorang panglima laskar Pangeran Diponegoro di wilayah Kedu dan Adipati Mrapat, bupati Banyumas yang pertama. Dengan itu, garis keturunan keluarga itu dapat ditarik lagi pada penguasa-penguasa awal Kesultanan Mataram.
Masa kecil Prabowo sejak tahun 1958 banyak dihabiskan di luar negeri, terutama setelah keterlibatan ayahnya menentang pemerintah Presiden Soekarno di dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia di Sumatra Barat.
Ayahnya memboyong mereka sekeluarg ke Singapura. Prabowo kemudian disekolahkan di British Elementary School, Singapura. Namun gejolak politik negara Singapura kala itu yang lebih memilih menjaga hubungan baik dengan presiden Soekarno membuat Prabowo beserta orang tuanya pindah ke Hongkong pada tahun 1962.
Di Hongkong, Ayahnya mendaftarkan Prabowo beserta saudaranya di Glenealy Junior School. Ayahnya membuka bisnis konsultan ekonomi disana. Namun Prabowo hanya tinggal dua tahun disana dan pindah ke Kuala Lumpur, Malaysia.
Di Malaysia, ia menyelesaikan pendidikan menengahnya di Victoria Institute. Namun konfrontasi antara Malaysia dan Indonesia terjadi pada tahun 1963 membuat keluarga tersebut pindah ke Zurich, Swiss.
Di negara tersebut, Prabowo bersekolah di American International School dan mulai belajar bahasa Jerman dan Prancis. Namun belum lama disana, Pemerintah Swiss menolak suaka politik dari Profesor Soemitro Djojohadikusumo dan keluarganya.
Akhirnya Prof Soemitro Djojohadikusumo memboyong istri dan anak-anaknya termasuk Prabowo Subianto ke Inggris sebab pemerintah Inggris mau memberikan mereka izin tinggal permanen disana. Prabowo kemudian kembali melanjutkan sekolahnya di American International School hingga tahun 1968.
Baru setelah kejatuhan Soekarno dan naiknya Soeharto, keluarga Soemitro kembali ke Indonesia.
KARIR MILITER
Setibanya di Indonesia, Prabowo masuk ke Akademi Militer di Magelang, Jawa Tengah sebagai awal karir militernya di TNI Angkatan Darat. Pada 1974 ia lulus dari Akademi Militer sebagai seorang Letnan Dua.
Dari tahun 1976 hingga 1985, Prabowo bertugas di Komando Pasukan Sandi Yudha yang disingkat Kopassandha, pasukan khusus Angkatan Darat pada saat itu. Salah satu penugasan pertamanya adalah sebagai komandan pleton pada Grup I Para Komando yang menjadi bagian dari pasukan operasi Tim Nanggala di Timor Timur.Berusia 26 tahun, Prabowo merupakan salah satu komandan pleton termuda dalam operasi tersebut. Ia berperan besar dalam memimpin sebuah misi penangkapan terhadap Nicolau dos Reis Lobato, pemimpin Fretilin yang pada saat Operasi Seroja menjabat sebagai Perdana Menteri di Maubisse, sebuah kota kecil lima puluh kilometer di selatan Dili pada 31 Desember 1978.
Pada tahun 1983, saat menjabat sebagai wakil komandan pada Detasemen Khusus 81 Penanggulangan Teror di Kopassandha, Prabowo menikahi Siti Hediati Hariyadi atau yang dikenal dengan nama Titiek, putri Presiden Soeharto dan Tien Soeharto. Pasangan ini dikaruniai seorang anak, Ragowo Hediprasetyo atau yang dikenal dengan Didit.
Selanjutnya di tahun 1985, Prabowo menjadi wakil komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 328 atauu Yonif Para Raider 328 Dirgahayu, pasukan para raider di Kostrad. Dua tahun kemudian, setelah menamatkan pelatihan Special Forces Officer Course di Fort Benning ia menjadi komandan batalyon tersebut selama tiga tahun.
Prabowo kemudian menjabat sebagai kepala staf Brigade Infanteri Lintas Udara 17 atau Brigif Para Raider 17/Kujang I di Cijantung pada 1991. Dalam kapasitas itu, Prabowo yang saat itu telah berpangkat letnan kolonel terlibat dalam operasi pemburuan dan penangkapan Xanana Gusmao, salah satu tokoh pemimpin gerilyawan Fretilin.
Pada tahun 1993, Prabowo kembali ke pasukan khusus, yang kini dinamai Komando Pasukan Khusus atau Kopassus. Ia diangkat menjadi komandan Grup 3 Sandi Yudha, salah satu komando kontra-insurjensi Kopassus dan seterusnya menjabat sebagai wakil komandan komando dan komandan komando, di bawah kepemimpinan Brigadir Jenderal Agum Gumelar dan Brigadir Jenderal Subagyo Hadi Siswoyo.
----
Selanjutnya pada Desember 1995, Prabowo diangkat sebagai komandan jenderal Kopassus dengan pangkat mayor jenderal.Sebagai komandan jenderal, salah satu tugas pertama Prabowo adalah operasi pembebasan sandera di Mapenduma, Kabupaten Nduga, Papua. Ia bersama Detasemen Khusus 81 Penanggulangan Terror berhasil menyelamatkan sepuluh dari dua belas orang peneliti berkebangsaan Indonesia, Inggris, Belanda, dan Jermanyang tergabung dalam ekspedisi Lorentz 95 dan diculik oleh gerilyawan Organisasi Papua Merdeka.
Pada 20 Maret 1998, Prabowo diangkat menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat yang membawahi sekitar sebelas ribu pasukan cadangan ABRI. Jabatan ini pernah disandang ayah mertuanya Presiden Soeharto. Pengangkatan ini terjadi hanya sepuluh hari setelah Majelis Permusyawaratan Rakyat memilih Soeharto untuk periode kelima sebagai presiden.
Sebagai panglima, Prabowo meminta Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Wiranto agar diizinkan untuk menggerakkan pasukan cadangannya dari luar Jakarta untuk membantu meredam kerusuhan Mei 1998.
Meskipun permintaan ini kemudian ditolak oleh Wiranto, Prabowo diduga menerbangkan ratusan orang yang telah dilatih oleh unit-unit Kopassus di bawah pengawasannya di Timor Leste dari Dili menuju Yogyakarta, kemudian menuju Jakarta menggunakan kereta api.
Prabowo juga dimintai pertolongan oleh Mayor Jenderal Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima Komando Operasi Jakarta Raya, untuk ikut mengirimkan pasukannya untuk mengamankan ibu kota. Permintaan ini dipenuhi oleh Prabowo dengan mengirimkan anggota Kostrad untuk mengamankan beberapa bangunan. (Albert Batlayeri)
Post a Comment